Memang… apa salahnya jadi orang desa?

Kamis sore sepulang kuliah saya mampir ke Pentagon Digital Color Print depan pasar Karangmenjangan untuk cetak foto. Kata teman saya, disana lumayan murah meski memang kualitas gambarnya tidak begitu bagus. Kita bebas mencetak berapa pun foto dalam satu lembar kertas foto ukuran 1OR hanya dengan biaya Rp 10.000,-.
Awalnya, interaksi saya dengan si mas-mas (pencetak foto) hanya berkisar mengenai ukuran foto yang akan dicetak. Beberapa saat si mas-mas sibuk klak-klik mouse, meng-edit foto yang sebenarnya sudah saya edit ( maklum masih amatir, jadi kerjaan saya ga ngaruh kali). Akhirnya setelah beberapa lama proses print pun selesai. Si mas menyodorkan hasil foto yang telah dicetak pada saya sambil senyum-senyum ga jelas. Belum sempat saya menanyakan harga keseluruhan, tiba-tiba si mas bertanya, “Habis mudik ya mbak?” tanyanya masih dengan senyuman lebar yang ga jelas maksudnya.
Kening saya berkerut, pikir saya, ih… ngapain sih ni mas-mas tanya-tanya, mau tau aja urusan orang. Namun demi kesopanan, saya tersenyum sambil mengangguk. Mungkin si mas ini termasuk orang ramah yang gemar bertanya kabar pada orang asing.
Tapi ternyata pertanyaannya berlanjut, bahkan meruncing.
“Mudik dari desa ya mbak?” tanyanya innocent.
“Kok?” saya pun ikut-ikutan sok innocent.
“Dari setting potonya pedesaan semua” jawab si mas. (Kebetulan sebagian foto yang saya cetak memang foto-foto saya saat lari pagi bersama keponakan saya di jalan ujung desa, dimana terlihat pemandangan sawah, gunung, dan jalanan desa yang sepi tapi indah).
“ Mbaknya dari desa ya?” si mas rupanya tak sabar lagi dan langsung nyelutuk bahkan sebelum saya sempat menjawab.
Jujur, untuk sesaat saya speechless tanpa tahu harus berkata apa. Eh ada mas-mas lain yang ikut nimbrung. Mungkin baginya topik ini merupakan sesuatu yang menarik diantara timbunan pekerjaannya yang menjemukan.
“Pasti desanya di luar jawa, ya kan mbak?!” tebaknya dengan penuh keyakinan.
“Bukan…” jawab saya berusaha sabar,( saya ini kan orang desa, jadi harus sabar… sabar…)
“Jadi mbaknya emang dari desa ya?” si mas yang tadi rupanya masih penasaran.
“Pendatang di Surabaya datang dari mana lagi kalau bukan dari desa, mas?” jawab saya ketus. Pengennya saya tambahin “ Memangnya masnya datang dari mana mana kalo bukan dari desa juga? Las Vegas?”
Dua mas-mas iseng itu pun tersenyum puas mendengar jawaban saya.
Tanpa menunggu pertanyaan selanjutnya yang pastinya akan menyudutkan saya sebagai orang desa, saya langsung menyodorkan uang pembayaran biaya cetak foto. E si mas-mas lagi-lagi tersenyum dan berkata “ Bayarnya bukan disini mbak, tapi di sana…” katanya sambil menunjuk ke arah yang bagi saya tidak jelas.
“Dimana mas?” tanya saya bingung karena ada dua pegawai di arah yang ditunjuk si mas.
“Di mbak yang itu…” jawab si mas masih ga jelas.
“Yang mana?” geram saya. Jelas-jelas ada banyak mbak-mbak.
“Yang itu, mbak-mbak with kaos BLUE” jawabnya sambil senyum-senyum, mengerling ke arah si mas yang satunya.
Saya pun melangkah pergi menuju mbak berkaos BLUE. Dalam benak saya bertanya, apa yang ada di kepala si mas pencetak foto itu? Apa mereka pikir meski saya tampak sebagai mahasiswa dengan setumpuk buku, namun karena saya dari desa, lantas saya tidak tahu apa itu BLUE, sehingga mereka mesti menggunakan kalimat “mbak berkaos BLUE” dan bukan “mbak berkaos BIRU” untuk mengintimidasi saya. Atau saya saja yang terlalu sentimen padahal si mas hanya bermaksud guyon?
Well, untuk pertama kalinya saya terpikir… memang apa salahnya jadi orang desa? Kenapa banyak orang, siapa pun itu apapun profesi dan statusnya, menjadi merasa lebih superior saat berhadapan dengan orang desa? Memangnya apanya yang salah menjadi orang desa sehingga term “orang desa” mengandung sebuah nilai status sosial yang lebih rendah ketimbah “bukan orang desa”?
Sejak kapan ada aturan bahwasanya orang desa berada satu tingkatan di bawah strata sosial orang kota? Sejak kapan orang desa selaalu dianggap katrok, bodoh, miskin, tidak higienis, dan hal-hal yang serba minus lainnya? Bahkan kemudian muncul istilah “ndeso” yang berarti ketinggalan jaman. Bagaimana bisa kata “ndeso” bisa mempunyai makna negatif? Siapa yang bikin aturan? Kalau bukan hasil dari budaya kita yang salah kaprah.
Padahal kalau dipikir-pikir, hingga saat ini banyak sekali orang-orang yang notabene berasal dari desa telah sukses berkiprah di masyarakat bahkan menjadi orang besar. Sebut saja sosiolog Imam Prasojo yang berasal dari Banjar negaraa, Inul Daratista sang ratu ngebor pun berasal dari desa kecil di Pasuruan, bahkan orang nomor satu negeri ini: SBY, berasal dari sebuah desa di Pacitan. Kurang bukti apalagi bahwa orang desa itu sungguh benar-benar bukan orang katrok apalagi bodoh. Mereka punya kapasitas lebih dari cukup untuk menjadi sukses. Tapi kenapa orang desa masih diidentikkan dengan konotasi negatif meski telah banyak orang desa yang berhasil membuktikan kapabilitasnya?
The answer is (according to me lho…), karena sayangnya, banyak orang desa yang ketika telah sukses, kemudian terlalu menikmati perannya menjadi orang besar yang kebetulan telah bertransformasi menjadi orang kota, sehingga lupa dengan desa mereka yang sebenarnya perlu dibenahi. Bahkan kadang lupa bahwa dirinya dulu juga orang desa ( seperti si mas tukang foto tadi mungkin?). Nggak munafik sih, mungkin saya pun akan cenderung begitu jika kelak menjadi seorang menteri misalnya (amiiiiin…), atau penulis best seller barangkali (double amiiiin), atau istrinya menteri juga gapapa, atau enakan jadi selebritis aja ya? ( halah ngelantur…).
Tapi sungguh, coba seandainya saja orang-orang desa yang telah sukses dalam bidangnya mau kembali ke desanya dan membenahi masyarakat serta kehidupan disana. Tentu seseorang tidak akan dipandang rendah lagi hanya karena mereka berasal dari desa.
Kondisi semacam ini memang tak bisa diubah hanya dengan kesadaran satu dua orang saja. Saya sadar sebenarnya ini jauh lebih complicated karena ini menyangkut tatanan budaya dan paradigm masyarakat yang terlanjur mengakar kuat dalam masyarakat kita. Dan yang tentunya akan terasa dan terlalu berat bila dibahas disini. Well, last but not least… all I want to say is that I am a villager, grasroot, or maybe even a clodhopper! And I am very proud of it. No matter what they say! And I hope I can become one of hopeable villager that can built a better condition and not just talking too much in this note. What about you? ^_^kartini

Sepotong Cerita Tentangnya…

Saya suka sekali mengganti-ganti nama panggilan untuknya. Sekali waktu kupanggil dia dengan sebutan Tub-tub, Kohut, Bay helm, kacu biru, prenyil, unyil, atau entub. Nama lengkapnya Muhammad Tuba Auvana. Ayah saya yang memberinya nama. Konon “Tuba” adalah nama sebuah pohon di surga sana. Ia adalah lelaki cilik yang paling kuat yang pernah saya tahu. Ia lahir dari rahim kakak saya yang tersayang saat saya masih duduk di SMP dulu. Ia lahir ke dunia ini dalam kead

aan yang sedikit membuat hati ini sedih bila mengingatnya. Saat itu kakak saya masih dalam keadaan labil setelah mengalami masa kehamilan yang lumayan berat baginya. Kondisi emosi kakak saya yang kurang stabil membuat Tuba kecil agak sedikit terlambat mendapatkan asupan asi. Namun Alhamdulillah ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Kini, saat saya berada bermil-mil jauhnya darinya, kerap sekali saya merindukan sosok lucunya. Tingkahnya yang menggemaskan dan selalu mengundang tawa. Kebiasaannya memakai kaus kaki kemana-mana. Dan tawa histerisnya saat saya mau mengejarnya ( ia selalu ceria jika ada orang mau mengejarnya ). Jangan salah, hubungan kami tidaklah sedekat seperti Tante-keponakan pada umumnya. Kalaupun di foto kami terlihat akrab, itu hanya karena ia sudah peka kamera. Saya bukanlah figur tante penyayang yang lembut pada keponakannya dan dia juga bukan tipe anak kecil yang penurut yang akan tunduk hanya dengan sebatang coklat. Kami lebih sering bertengkar dari pada bermain bersama. Namun pertengkaran-pertengkaran kecil seperti berebut remote tv atau ketika ia marah karena saya larang main pisau justru membuat kadar kangen saya semakin berlipat banyaknya ketika lama tak bertemu.
Saya ingat, saat usianya belum satu tahun ia paling rajin membangunkan saya jika saya terlambat bangun. Ia akan merangkak ke kamar saya lalu naik ke tempat tidur dan selanjutnya akan menepuk-nepuk muka saya sampai saya bangun. That’s really nice memory…, namun sayang semakin bertambah usianya, ia semakin menjaga jarak dengan saya. Apalagi semakin berkurang jadwal pulang saya ke rumah. Ia bahkan lebih dekat dengan mbak pengasuh-nya daripada dengan saya.
Namun satu yang rasanya menjadi milik kami berdua adalah saat ia bertanya pada saya setiap kali saya pulang, bukan kabar atau pun oleh-oleh, tapi… ” Le’ Na ( begitu ia memanggil saya), mana buku ceritanya?” . Ya, dia suka sekali menagih saya buku cerita. Meski saya tahu dia belum lancar membaca. Sejauh ini, saya selalu menyempatkan membelikan si lucu itu buku cerita. Meski saya tahu dia tidak benar-benar membacanya. Mungkin hanya melihat-lihat gambarnya, atau bahkan puas mencoret-coret halamannya. Tapi ada kebahagiaan tersendiri yang menyeruak setiap kali melihat tangan mungilnya menerima buku cerita dari saya. Roman wajahnya yang jauh dari kegembiraan, biasa-biasa saja dan terkesan meremehkan. Tapi itulah dia. Saya merasa dulu saya pun seperti dia. Suka sekali dengan buku cerita meski tidak benar-benar membacanya. Dan tidak suka memperlihatkan kegembiraan yang sesungguhnya. Entahlah…
Tahun ajaran baru ini dia akan masuk SD. Tub-tub… bagaimana persiapanmu? Le’ Na kangen sekali pada tingkahmu. Melihatnya tumbuh, adalah salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya…

Kapan Kau Merasa Cantik?

Banyak orang bilang kalau cantik itu bukan hanya lahiriah saja. Hampir setiap orang setuju kalau hati dan perilaku kita yang baik adalah cermin kecantikan yan sesungguhnya. Istilahnya, inner beauty… Kita sebagai wanita tak harus punya wajah elok dengan tubuh sempurna untuk bisa cantik. Cukup dengan mempercantik hati, pengetahuan dan tingkah laku kita, maka kecantikan pun akan memancar dari dalam diri kita. That’s all! Benarkah?

Tiba-tiba saya berpikir, benarkah realitas yang ada sesederhana itu? Mendadak saya tidak terima saat para lelaki berkata bahwa yang terpenting bagi mereka adalah wanita yang cantik hatinya bukan cantik wajahnya saja. Tiba-tiba saya curiga saat para wanita mengaku bahwa mereka berdandan dan mempercantik diri untuk menghargai diri sindiri dan ciptaan-Nya.

Saya bertanya-tanya…

Jika para lelaki lebih mementingkan hati daripada rupa, mengapa masih ada istilah “cinta pada pandangan pertama”? Jika inner beauty lebih powerfull daripada  body kenapa banyak lelaki masih ngiler ketika melihat cewek seksi?

Dan untuk apakah gerangan wanita mempercantik diri? Menghargai diri sendirikah? Merawat dan mensyukuri pemberian Ilahi? Lalu mengapa masih ada wanita yang mendamba kulit putih sempurna, hidung mancung, dan bibir bak delima? Mengapa begitu banyak wanita yang mengeluh betapa berat badan mereka jauh dari ukuran normal? Kalau saja mereka mau jujur, mereka berdandan mati-matian, memutihkan kulit, meluruskan rambut, menurunkan berat badan, merapikan gigi, memilih baju paling modis untuk pergi ke kampus, dan a to z lainnya, sesungguhnya hanya untuk satu pengakuan dari dunia. Yakni : cantik. Percayalah, sebagai wanita, tanpa sadar kita akan berupaya untuk menjadi cantik. Alami memang. Tapi kadang kita terjebak oleh ukuran-ukuran yang diberikan oleh dunia tentang arti cantik yang melulu hanya sebatas fisik.

Tanyalah pada diri kita masing-masing ( wanita ), kapankah kita merasa cantik? Apakah saat kita bangun tidur dan melihat wajah kucel kita di cermin? Atau saat kita selesai berdandan dan siap berangkat kuliah? Pernahkah kita merasa cantik saat memberi uang pada pengemis di jalanan atau membeli Koran dari anak kecil yang kepanasan di trotoar? Apakah kita bisa merasa cantik saat mendapat ipk sempurna tapi wajah kita buruk rupa? Atau lebih parah… kita baru akan merasa cantik saat … seorang lelaki mengatakan kita cantik???

Lalu, sebaliknya… kapan kita merasa begitu jelek dan buruk rupa? Pernahkah kita merasa begitu tidak cantik saat menyembunyikan sebuah kebohongan? Pernahkan kita merasa jelek saat cuek melakukan sebuah kecurangan? Atau kita hanya merasa jelek karena jerawat yang memenuhi wajah kita, karena ukuran tubuh yang kata orang tidak langsing, karena hidung yang kata orang tidak mancung, karena rambut yang kata orang tidak indah? Atau jangan-jangan kita merasa jelek karena… belum ada seorang lelaki pun yang mengatakan kita cantik???

Ironis, bagaimana kita tanpa sadar mendamba dan terperangkap dalam konsep sebuah kecantikan yang semu. Karena ukuran kecantikan itu ( meski relative ) sejauh ini masih ditentukan oleh pria. Dan seolah tak mau tahu… kita justru sibuk mempercantik diri demi pengakuan itu…

“Spanglish”, Nasionalisme, dan Seorang Ibu

spanglishBeberapa waktu lalu saya baru saja nonton sebuah film yang menurut saya sangat bagus. Judulnya Spanglish. Film ini tidak hanya bagus dari segi cerita dan pesan yang ingin disampaikan, tapi yang paling membuat saya terkesan adalah kehebatannya dalam memukau saya di akhir cerita, dimana dari sebuah adegan yang mungkin terasa biasa bagi orang lain, tapi begitu menohok hati saya.

Spanglish bercerita tentang seorang ibu muda asal amerika latin yang mempunyai jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Ia membesarkan anak perempuannya seorang diri ( tak diceritakan kemana gerangan sang suami ). Ia bekerja serabutan demi membiayai hidup putrinya. Ia seorang ibu yang hebat yang pantang terlihat lemah di depan putrinya. Awalnya mereka tetap bertahan di Meksiko, namun besarnya kebutuhan hidup membuatnya terpaksa bermigrasi ke Amerika . Ia pun pindah ke Amerika dengan satu prinsip kuat, bahwa sebisa mungkin tidak hidup dengan American yang bisa saja membuatnya kehilangan jati diri. Hingga putrinya beranjak remaja, ia hidup di perkampungan Meksiko di Amerika. Ia hidup dengan budaya meksiko yang kental, bahkan ia tak berniat belajar bahasa inggris dan tetap menggunakan bahasa spanyol dalam kesehariannya. Masalah muncul saat itu mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kulit putih Amerika. Pada awalnya ia hanya mengalami kendala bahasa biasa. Namun lama-lama ia merasakan betapa budaya Amerika yang begitu berbeda jauh dari budayanya mau tak mau ikut mempengaruhi kehidupannya, dirinya, dan terutama putrinya.

Konflik mulai tumbuh saat sang nyonya majikan amerika-nya tergila-gila pada putrinya yang cantik, polos, dan pandai. Nyonya amerika itu rupanya terobsesi mempunyai anak bak Barbie hanya karena tubuh anak perempuannya lumayan tambun. Sang nyonya lantas sering memberi hadiah putrinya, mengajak putrinya jalan-jalan, dan lambat laun secara kasat mata mengubah putri mungil meksiko itu menjadi sangat amerika. Puncaknya saat sang nyonya merekomendasikan beasiswa di sebuah sekolah bergengsi, tentu saja si gadis kecil girang bukan main. Ia begitu bahagia membayangkan masa depannya yang sudah pasti terjamin. Namun sang ibu muda meksiko itu menyadari, bahwa jika ia menyetujui putrinya untuk masuk ke sekolah bergengsi yang sarat nilai amerika itu, bukan tidak mungkin ia akan kehilangan putri manisnya untuk selamanya. Maka ia memutuskan untuk menolak tawaran sang majikan dan memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia ingin menjauh dari keluarga amerika itu dan memulai kehidupan baru, kembali pada jati dirinya sebagai seorang latin.

Sudah bisa ditebak, sang gadis cilik pun memberontak, protes dan berteriak-teriak heboh sambil menangis karena merasa ibunya sendiri justru menghancurkan masa depannya. Dramatis sekali, melihat adegan gadis cilik yang sangat manis itu meneriaki dan membentak ibunya di sepanjang jalan saat mereka baru keluar dari rumah sang majikan amerika. Hebatnya, ibu muda cantik itu diam seribu bahasa dan tak balas membentak. Satu hal yang membuatnya tampak sangat terluka adalah saat putrinya mengatakan sebuah ungkapan khas amerika saat ia hendak mendekati putrinya, yakni, “ Not for now, I need some space”. Tatapan ibu muda itu meradang, seakan tak percaya putri kesayangannya mengucapkan kalimat itu. Ia lantas berkata bahwa bagi mereka, orang meksiko, tak akan pernah ada jarak antara ibu dan anak. Tidak saat mereka bertengkar sekali pun. Lalu dengan suara lirih, sang ibu menanyakan satu hal pada putrinya yang membuat saya benar-benar terharu… yakni, “ apakah satu hal yang sangat kau inginkan dalam hidupmu adalah menjadi seseorang yang sangat berbeda dari aku, ibumu?” . Kalimat itu begitu mengena. Tentu pada akhirnya sang putri pun menyadari bahwa ibunyalah yang benar dan tahu apa yang terbaik baginya.

Mari kita tinggalkan cerita mengharukan di atas, ada dua hal yang ingin saya garis bawahi dari film Spanglish ini. Yakni pertama, rasa nasionalisme yang dimiliki ibu muda meksiko tadi. Begitu kuat bahkan di tengah kesulitan hidup dan lingkungan asing yang sangat berpengaruh. Coba umpamakan jika diri kita berada dalam posisi ibu muda itu. Tak perlu muluk-muluk, sederhana saja… kita kadang kurang bangga dengan bahasa kita sendiri dan begitu mengagungkan bahasa inggris. Dan tanpa sadar, bukan hanya bahasa saja, tapi nilai, budaya, dan pola hidup kita ikut-ikutan berubah.

Hal kedua yang menyita perhatian saya adalah pertanyaan ibu muda tadi pada putrinya. “ apakah satu hal yang sangat kau inginkan dalam hidupmu adalah menjadi seseorang yang sangat berbeda dari aku, ibumu?”. Pertanyaan itu seharusnya datang pada kita semua. Tidakkah pertanyaan itu membuka penglihatan kalian semua? Sebuah penglihatan yang membuka kesadaran yang selama ini atau bahkan mungkin tidak akan pernah kita sadari di waktu mendatang. Kita ( atau mungkin saya saja?) tidak pernah sadar, bahwa disamping kita mengagumi dan menghormati ibu kita, menyanjungnya bak bidadari dan menganggapnya wanita tercantik dan terbaik yang ada di dunia ini, tapi kita sekaligus juga berusaha menggapai sebuah mimpi, keinginan mendasar dalam hidup bahwa kita ingin menjadi seseorang yang sama sekali berbeda dari ibu kita. Seperti gadis cilik meksiko tadi yang begitu ingin mendapat beasiswa karena ingin menjadi orang terpelajar dan bermasa depan cerah, tidak seperti ibunya yang tidak bisa berbahasa inggris dan hanya menjadi pembantu rumah tangga. Lihatlah kita… berjuang mati-matian demi sebuah masa depan dan kondisi yang lebih baik dari kondisi ibu kita. Meski menuntut ilmu adalah sebuah keharusan, namun coba telisik dalam hati kita… adakah kita pernah menginginkan menjadi seperti ibu kita? Ibu kita yang tiap subuh sudah berangkat ke pasar untuk menjual sayur mungkin? Ibu kita yang berjuang keras melawan terik di tengah sawah sana? Ibu kita yang rela jauh-jauh terbang ke luar negeri menjadi “TKW” demi kita? Ibu kita yang bergaji kecil dari hasil mengajar agama di SD desa? Ibu kita yang hanya pandai masalah dapur dan tidak bisa berbahasa inggris? Ibu kita yang tidak pernah kenal ruang presentasi dan setelan jas bermerek kecuali daster lusuh yang selalu dipakainya?

Ah, alih-alih itu semua, kita justru berusaha menjadi begitu berbeda dari wanita yang melahirkan kita. Saya tidak mengatakan itu salah, toh keadaan memang mesti diperbaiki, namun kadang kita menjadi tidak sadar dan tidak peka, bahwa usaha kita untuk memperbaiki keadaan justru telah mengubah diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya, memerangkap kita dalam sebuah kebahagiaan semu bernama materi, dan menjauhkan kita dari figur seorang wanita yang seharusnya kita teladani.

Well, kembali ke Spanglish, bagi yang belum nonton… tidak ada alasan untuk tidak menontonnya. Filmnya benar-benar bagus, berbobot dan menyentuh, kecuali adegan-adegan “kotor” khas Hollywood yang jika tidak ditampilkan pun tidak akan mengurangi esensi ceritanya ( sebaiknya di-skip, bisa bikin ilfil ), plus tokoh suami sang nyonya yang menurut saya jika tidak diperankan oleh Adam Sandler akan jauh lebih bagus. ^_^

Fenomena Nyontek Di Kalangan Mahasiswa:

Seorang sosiolog, yang juga purnawirawan perwira TNI berceramah di hadapan ratusan karbol taruna sebuah akademi militer di Yogyakarta. Darohim Effendi, namanya. Di antara sentilan-sentilan yang mewarnai ceramahnya itu, Darohim bercerita tentang pengalamannya ketika berkunjung ke Monash University beberapa tahun silam. Darohim tertarik dengan budaya anti menyontek yang menjadi prinsip para mahasiswa dan pelajar di Australia, terutama di kampus Monash University. Dari teman yang mengajaknya berkunjung ke Monash, Darohim mendapat penjelasan: “Dalam sejarah program pasca sarjana di Monash, hanya terjadi satu kasus menyontek. Ternyata mahasiswa yang menyontek itu berasal dari Indonesia”. Sebagai hukumannya, mahasiswa program magister asal Indonesia itu dikeluarkan secara tidak terhormat dari Monash University. Sungguh memalukan! ( dikutip dari www.ruangjurnalismeamatir.com) Cerita di atas hanyalah secuil catatan kotor diatara seribu lembar hitam praktik curang di dunia pendidikan Indonesia. Fenomena nyontek di kalangan mahasiswa (Indonesia) saat ujian sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa sendiri maupun di jajaran pendidik (dosen). Parahnya, dari waktu ke waktu penyakit menahun dan sangat menular (nyontek) ini justru semakin merajalela dan dipraktekkan tanpa adanya norma sosial yang mampu membendungnya. Seolah sudah tercipta sebuah pelegalan dan kesepakatan umum dan pada akhirnya menyontek menjadi sesuatu yang lumrah di kalangan mahasiswa. Sungguh ironis, mahasiswa yang notabene sebagai generasi penerus bangsa, yang pendapat dan argumennya selalu dihargai dan dipercaya sebagai kubu pembela rakyat kecil, yang keberadaannya menjadi tumpuan dan harapan untuk membangun bangsa di masa depan kelak, namun ternyata masih gemar melakukan praktik nyontek saat ujian. Bahkan tak jarang ketika ada seorang mahasiswa yang memegang teguh prinsip tak mau nyontek, maka ia akan ditertawakan oleh sebagian besar mahasiswa lainnya dan dicap sebagai seorang yang kolot, kuper, sok teladan, dan tak setia kawan. Kalau sudah begini, lantas dimana standar suatu kebenaran di mata mahasiswa jika kebenaran dan kejujuran itu justru mereka tertawakan? Sudah tak terhitung banyaknya kasus mahasiswa yang melakukan kecurangan saat ujian ( UTS maupun UAS). Mulai dari nyontek jawaban milik teman, menyalin dari hand-out materi yang sengaja dicopy perkecil, hingga membawa diam-diam bahan materi ke kelas dan duduk di pojok belakang agar tak ketahuan pengawas. Di FIB UNAIR sendiri, praktik-praktik kotor seperti itu bukan hal yang asing lagi. Kebiasaan menyontek sudah demikian terstruktur dan berjamaah, layaknya korupsi di negeri ini. Mahasiswa yang konon selalu berbicara atas nama kebenaran dan keberpihakan pada keadilan untuk rakyat, dengan mudahnya melakukan praktik curang tersebut tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tanpa kesadaran bahwa kelak kebiasaan nyontek yang terlihat sepele itu akan membawa dampak besar di masa mendatang, karena alih-alih sadar, bahkan mereka tidak cukup ‘ngeh’ bahwa perbuatan menyontek mereka tak lebih bermartabat dari perilaku koruptor-koruptor yang biasa mereka demo. Karena koruptor-koruptor besar dan penjahat kerah putih (white crimers) yang marak disorot akhir-akhir ini bukan lain adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada dibangku sekolah (Alhadza, 2005). Perilaku contek-menyontek hanyalah secuil catatan dalam dunia pendidikan di Indonesia yang tampaknya sepele tapi menyimpan bahaya yang jika tak segera diantisipasi akan semakin memperarah kualitas mental manusia Indonesia yang sekarang ini semakin bertambah nilai merahnya. Terlebih bagi mahasiswa muslim, sudah menjadi keharusan untuk mengetahui bagaimana hukum perilaku menyontek dalam Islam. Curang dalam ujian, ibadah atau mu’amalah hukumnya haram, berdasarkan sabda Nabi Muhammad .Saw : “Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101]. Disamping itu, hal tersebut dapat menimbulkan banyak madharat baik di dunia maupun di akhirat. Maka sudah seharusnya mahasiswa menghindari perbuatan tersebut dan saling mengingatkan untuk meninggalkannya.[Al-Fatawa, Kitab Ad-Da’wah, hal. 157, Syaikh bin Baz]. Selain itu Allah . Swt juga memerintahkan kita untuk tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan melarang kita tolong-menolong dalam berbuat keburukan: “Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam keburukan dan dosa” (QS AlMaidah:2). Dari ayat di atas jelas, bila itu perbuatan keburukan, baik yang menolong maupun yang ditolong memiliki status yang sama, sama-sama berdosa. Suburnya praktik menyontek di kalangan mahasiswa Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya motivasi untuk berprestasi. Berprestasi ( berhasil) hanya diartikan sebatas kelulusan dalam mata kuliah tertentu atau nilai A sempurna pada lembar KHS. Sehingga orang dengan motivasi rendah (low achievement motivation) cenderung memilih melakukan menyontek ketika menemui kesulitan dalam proses belajar mereka. Berbeda dengan orang yang punya motivasi berprestasi tinggi yang selalu ingin mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, bukan asal jadi, dan mereka mempunyai standar tinggi untuk kualitas hasil pekerjaan. Maka satu-satunya solusi yang paling pas untuk membabat habis budaya nyontek mengingat mekanisme, teknis, dan penjagaan yang ketat saat ujian tak juga mampu membuat mahasiswa jera menyontek, adalah dengan menanamkan kesadaran penuh untuk berprestasi tanpa nyontek di kalangan mahasiswa dan meningkatkan motivasi berprestasi mereka. Dengan kata lain, kita lah sebagai mahasiswa yang mestinya bertanggung jawab untuk mengakhiri budaya curang dalam ujian ini (nyontek). Pertama bisa dengan senantiasa mengingat bahwa menyontek merupakan kebiasaan yang akan merugikan diri sendiri, baik pada seketika itu juga maupun pada masa-masa mendatang. Mahasiswa yang tak pernah berusaha menghilangkan kebiasaan menyontek dari dalam dirinya mulai sekarang, kelak tak akan pernah meraih sukses sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, mulai detik ini juga, mari kita tegakkan slogan “Berprestasi Tanpa Menyontek!” . Sulit mungkin, namun apakah kita sebagai mahasiswa yang dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan bangsa hanya akan menjadi boneka tolol yang terus menerus merasa bangga menertawakan sebuah kebenaran? *Staf Departemen Syiar SKI FIB

Kenangan OSPEK : Ibarat disuguhi kopi panas di siang bolong…

Siapa yang tak jengah bila di siang bolong yang terik, justru disodori secangkir kopi panas?Begitulah kira-kira keadaan diri ketika ospek, dimana yang kita butuhkan adalah arahan dan bimbingan tapi yang kita dapat justru teraphy-shock!

Jika sedang membahas kenangan masa ospek dengan teman-teman, selalu tidak pernah ada habisnya. Mulut sampai berasa berbusa membahas A sampai Z detil penderitaan-penderitaan yang mesti dijalani selama ospek berlangsung.

Baru-baru ini, saudara kembar saya tengah menjalani masa-masa yang menurut banyak orang ( termasuk saya ), sangat menyiksa itu. Mulai dari perjuangan berat berangkat ke kampus pagi-pagi sekali sehabis subuh, lalu insiden bentak-bentakan dari panitia ospek, sampai acara puncak penutupan ospek yang selalu menyuguhkan kejutan, yang tak jarang menyisakan perasaan traumatis ( rasanya nggak berlebihan kalau saya bilang begitu kan…)

Beruntung selama ospek berlangsung, saudara kembar saya tidak mendapat tugas yang terlalu banyak dan aneh-aneh ( yang sialnya, saya alami dulu ). Hal yang paling parah menurutnya hanyalah saat acara puncak keakraban dimana acara tersebut diadakan di pantai Baron Yogyakarta. Entah bagaimana mulanya, acara yang tadinya berlangsung adem ayem saja, berubah jadi arena liar yang melegalkan para panitia untuk menceburkan para maba ( mahasiswa baru ) ke laut ( untung masih pinggiran, jadi masih dangkal ). Tapi tetap saja bikin saudara saya kaget setengah mati. Saat ia mengira bahwa acara akan segera diakhiri karena hari telah beranjak petang, tiba-tiba sekelompok panitia mendekatinya, lalu merampas kaca matanya dan ramai-ramai menggotongnya untuk diceburkan ke laut. Meski berusaha berontak dan berteriak sekuat tenaga, saudara saya akhirnya sukses harus berbasah-basah ria.

Kekesalan dan keletihan bercampur aduk menjadi satu. Namun rupanya bagi panitia ospek hal semacam itu mungkin menjadi salah satu hiburan atau bahkan dianggap hal yang lucu dan fun. Mungkin mereka pikir ospek tak ubahnya acara ulang tahun atau semacamnya, dimana lumrah melakukan hal-hal seperti tadi. Tapi yang saya herankan, tidakkah terpikir di kepala mereka, bagaiman letihnya para maba selama seminggu harus mematuhi seabrek peraturan mereka, lalu ditambah dengan kejutan yang mereka pikir menyenangkan padahal sama sekali tidak? Bagaimana jika maba yang mereka kerjain itu mengidap penyakit tertentu yang bisa meimbulkan hal yang tidak diinginkan?

Saudara saya, selain tidak bisa berenang ( , sama kayak saya ), ia juga menderita gejala bronchitis. Dan selama perjalanan pulang, saudara saya terpaksa harus rela menggigil kedinginan karena ia tak membawa baju ganti. Esok harinya, ia mengeluh lewat sms kalau ia tidak enak badan. Bersyukur memang, karena Alhamdulillah penyakit saudara saya tidak kambuh, tapi aksi yang dilakukan para petinggi ospek itu benar-benar tidak mencerminkan sikap seorang mahasiswa yang seharusnya terpelajar, bertanggung jawab, dan peka terhadap lingkungan.

Namun omong-omong tentang Ospek, hampir semua universitas di negara ini, baik swasta maupun negeri __ seolah seperti setuju dengan budaya ospek yang seperti ”itu” ( penuh dengan aksi aneh2, tidak masuk akal, dan yang terpenting tidak ada hubungannya dengan kegiatan akademik atau kemahasiswaan ). Buktinya, sampai sekarang toh tidak ada larangan atau peraturan resmi dari pihak rektorat di tiap universitas untuk menghindari perploncoan dalam ospek.

Dan satu lagi yang saya sayangkan, ada sebagian orang yang menganggap bahwa perploncoan dalam ospek memang lumrah terjadi dan mau tidak mau harus kita terima dengan ikhlas bila kita ingin jadi mahasiswa. Hellooo? Kok bisa ya orang berpikir seperti itu?! Bagi saya alasan itu seperti dipaksakan karena pesimis menghadapi keadaan. Memangnya tidak ada cara lain untuk mendidik kita menjadi mahasiswa yang bermental kuat dan displin? Dan bukankah seorang generasi penerus bangsa juga seyogyanya memiliki ”hati lembut” dan ”kebijaksanaan”? Saya sangsi, dua hal itu bisa terbentuk dari tradisi perploncoan ospek yang dipenuhi intimidasi dan pemaksaan seperti selama ini terjadi.

Tuh… benar kan bicara tentang ospek tidak akan ada habisnya… Apalagi bila ingatan ini sudah melayang pada kenangan ospek yang saya alami setahun lalu. Bagaimana tidak? Saat itu, semua benar-benar baru bagi saya. Saya yang sebelumnya tinggal dan bersekolah di lingkungan pesantren yang penuh religiusitas dan tepo seliro, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa kini saya tengah berda di rimba liar bernama ” Surabaya ” dengan segala kompleksitas budayanya yang paradoks bagi saya.

Tahap adaptasi yang berjalan tidak begitu mulus harus ditambah dengan masa-masa ospek yang cukup menyiksa, sempat membuat saya menarik diri dari pergaulan dan organisasi kampus pada awal perkuliahan ( mungkinkah saya depresi waktu itu? Bisa jadi…). Saat itu, ospek diadakan tepat setelah pegukuhan mahasiswa baru. Memang tiga hari pertama ospek hanya berisi ceramah2 dan sosialisasi pembelajaran di PT. Namun siapa sangka, tiga hari selanjutnya itulah yang akan menjadi puncak dari acara ospek sesungguhnya, hal yang mungkin sangat ditunggu-tunggu panitia ospek.

Pada hari pertama perploncoan ( tiga hari terakhir ), kami diharuskan sampai di kampus pukul enam tepat. Tak boleh telat sedikit pun. Kalau telat, kami harus rela dihukum senam di depan maba lainnya. Waktu itu sudah pasti saya telat datang ( meski hanya lima menit ), karena kebetulan saya masih tinggal di asrama yang jaraknya lumayan jauh dari kampus. Otomatis saya pun harus ikut senam yang maaf… gerakannya terlalu vulgar bagi saya. Itu pun setelah puas mendapat bentakan dan ceramah tim displin yang memang garang banget ( saya heran, mereka kok lebih cocok masuk militer atau jadi aktor dan aktris antagonis ya? ). Untung waktu itu hampir semua maba telat, jadi saya merasa agak terselamatkan. Namun rupanya penderitaan yang sesungguhnya belum dimulai. Selama tiga hari terakhir itu setiap harinya kami dibebani banyak sekali tugas tetek bengek yang bagi saya tidak masuk akal, kalau ingin tahu, ini dia daftarnya ( samar2 masih melekat di benak saya ) :

  • Tugas hari pertama :

  • Membuat name-card / keplek berbentuk hati dengan ukuran yang telah ditentukan dan berwarna sesuai bendera universitas kami, bertuliskan nama, prodi, motto hidup, plus foto ukuran 4×6. Digantung dengan tali rafia yang terdiri dari dua tali rafia sesuai warna bendera universitas (dikepang).

  • Membawa air minum ukuran tertentu merek fakultas kami

  • Membuat block note khusus tanda tangan untuk panitia ospek yang tiap seksi harus disekat dan tidak boleh keliru ( jumlah halaman sesuai jumlah panitia ospek di tiap divisinya ) , dengan catatan berwarna sama untuk setiap kelompok. Di akhir ospek, buku itu harus sudah penuh terisi tanda tangan.

  • Membuat tas dari karung goni yang ditempeli bendera universitas dan bertuliskan biodata kami.

  • Membuat buku khusus tanda tangan untuk sesama maba, yang bersampulkan sama untuk setiap kelompok, dan harus diisi minimal sepuluh tanda tangan setiap harinya.

  • Membawa bekal makanan untuk dimakan bersama dan harus dihabiskan

  • Membuat esai tentang diri kami

  • Membuat reportase tentang lingkungan tempat tinggal kami

Wah… apalagi ya? Mendadak saya terserang amnesia… hehe, hehe????!!! Namun itulah, tugas yang secara logis tidak bisa dilakukan dalam kurun waktu sehari itu harus kami selesaikan dalam waktu sembilan jam. Terhitung mulai bubaran ospek jam setengah enam sore, jam enam esok pagiya kami sudah harus siap denga semua tugas itu. Karuan saja malamnya saya begadang mengerjakan itu semua. Bahkan jam setengah dua belas malam saya masih antre di foto copy untuk menjilid esai dan reportase saya, setelah sebelumnya berkeliaran kayak orang gila untuk mencari rental yang tidak dipenuhi antrian. Oya, mencari fotocopy yang bersedia menjilidkan blocknote dengan ketentuan rumit seperti yang diminta panitia ospek juga memakan waktu lebih dari dua jam!

Untung saat itu saya bersama dua teman yang meski laki-laki sangat kooperatif bagi saya ( thanks to ridlo n febri, kalian kayak bodyguard saya malam itu ). Karena kami sama-sama tinggal di asrama, sesampainya di asrama pun kami masih harus menyelesaikan tugas lain seperti membuat tas dan lain sebagainya. Dan pekerjaan itu baru selesai pukul lima kurang seperempat. Setelah berbaring sekitar llima belas menit, azan subuh terdengar dan saya langsung ngacir ke kamar mandi, sadar saya bakal telat lagi hari itu.

Di hari kedua, tampaknya penyiksaan semakin memanas. Setelah disuruh lari-lari dari parkiran ke depan fakultas sambil bernyanyi, kami digiring ke auditorium untuk menyaksikan film dokumenter. Baru saja bisa bernapas lega ( karena semalam hanya tidur lima belas menit ), setelah jam istirahat kami disuruh masuk ke sebuah ruangan untuk berbaris. Dan dimulailah aksi bentak-membentak yang sangat mengintimidasi itu. Awalnya saya diam saja karena tahu ini hanyalah sebuah pancingan agar kami buka mulut. Padahal saya pikir, untuk bikin kami berani ngomong di depan forum tidak harus dengan cara seperti itu. Setelah perdebatan semakin memanas ( antara kelompok yang tidak setuju dengan perlakuan semena-mena panitia dengan kelompok yang setuju dan menganggapnya wajar sebagai perploncoan untuk melatih mental ), akhirnya saya tidak tahan untuk tidak bersuara. Waktu itu terang saja saya berada di pihak yang menentang perlakuan panitia, sama sekali bukan cari sensasi ( seperti yang saya lihat pada beberapa orang ), tapi saat itu saya benar-benar sudah, letih dan muak dengan semua itu. Berharap aksi konyol itu akan segera dihentikan, seorang panitia malah nyemprot-nyemprot tepat di depan wajah saya, Saya ingat betul, sampai air liurnya muncrat ke wajah saya. Hiiiks…

Panitia itu bilang saya tidak bisa berpikir panjang dan hanya menelan mentah-mentah tugas-tugas yang diberikan. Gila, pasti saya sudah tersedak kalau benar saya menelan tas karung dan keplek itu ( ^_^ ), Dia bilang keplek berbentuk hati itu dibuat agar fakultas kami selalu berada dekat dalam hati ( itu kan hanya simbol? Butuh proses untuk membuat sesuatu melekat dalam hati, ya toooh? ), lalu tentang tenggat waktu yang sangat sempit dalam menyelesaikan semua tugas-tugas itu , kakak tingkat saya itu bilang dengan entengnya ” itu mah keciiil, belum seberapa dibanding tugas saat kamu sudah kuliah nanti! Dalam semalam, kamu bisa diberi tugas bikin empat bahkan lima makalah!”. Olalaaa? Can u believe it? Is it true? Saat itu saya hanya bisa diam. Dan orang di depan saya itu dengan kemenangannya meneruskan ceramah kasarnya yang menohok hati, dan ia baru berhenti ketika melihat pelupuk mata saya sudah digenangi air mata. Saat itu saya benar-benar capek dan sakit hati. Bukan dunia seperti ini yang saya inginkan.

Hari terkhir ospek, adalah puncak yang tidak akan pernah saya lupakan. Art show yang tadinya saya kira mejadi penutup acara justu sebenarnya adalah awal dari skenario puncak. Saat kami para maba tengah asyik menikmati sajian art show dari masing-maasing kelompok sambil diiringi tawa dan canda, tiba-tiba ada segerombolan panitia yang masuk dan membentak-bentak kami menyuruh kami berbaris. Perasaan yang tadinya sudah rileks sontak menjadi tegang kembali. Kami digiring ke arah parkiran dan disana kami kembali dibentak-bentak. Setelah beberapa lama panitia menyuruh kami menutup mata kami dengan sleyer, dan kemudian dilanjutkan lagi aksi bentak-bentakan itu. Bahkan kali ini diiringi teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Tiba-tiba saya merasa disemprot air dari segala arah. Saya tak bisa mengelak dari guyuran air yang terasa pedih di mata. Bodohnya saya tak berani membuka penutup mata saya saat itu. Saya pikir saya tak mau ambil resiko diberi hkuman lagi. Saya sudah sangat letih dan ingin semuanya berakhir. Akhirnya lama-lama saya merasa pusing dan seluruh tulang saya serasa remuk. Ketika saya sudah basah kuyup dan dengan air mata bercucuran tubuh saya hampir roboh ke tanah, sebuah tangan menyelamatkan saya. Menarik saya dari lautan kekacauan yang bagi saya teramat mengerikan itu. Ternyata itu tangan mbak-mbak medis yang tahu wajah saya telah pucat. Akhirnya, saya berakhir di ruang medis. Disana sudah banyak maba yang hampir semuanya berwajah pias dengan mata sembab. Maba yang seperti saya, yang kata mereka tidak punya keberanian dan mental yang kuat. ( yang penting saya masih punya iman yang insyaAllah kuat ). Bahkan ada di antara mereka yang sesak napas dan kondisi kesehatannya cukup parah.

Akhirnya… ketika hari beranjak malam, serangkaian acara yang cukup menyiksa tapi kata banyak orang lumayan seru itu pun berakhir. Semuanya benar-benar membekas di hati saya. Satu yang terbersit di benak saya, tidak adakah cara atau satu konsep lain yang bisa digunakan untuk menyambut maba dan membekali mereka mental dan kepribadian yang sehat dan tangguh, dengan catatan tanpa aksi-aksi arogan yang justru mengintimidasi dan bukan tidak mungkin menimbulkan perasaan traumatis? Siapa bisa jawab pertanyaan saya?

The Horror’s Prose.I Class: Thursday Nightmare…

Hari Kamis tepat pukul tiga sore, adalah jam-jam yang selalu menjadi saat-saat yang paling mendebarkan dalam perkuliahan semester ini. Itulah saat kelas Prose.I. Bukan hanya saya, tapi rasa-rasanya semua mahasiswa Sasing ’07 akan setuju dengan hal itu. Ibarat masuk ke ruang sidang dan posisi kita sebagai terdakwa yang mesti siap dengan rentetan pertanyaan menjebak dari jaksa penuntut ( fiuh… lebay!). Mungkin lucu jika direnungkan, masa udah kuliah masih main kucing-kucingan sama dosen? Tapi memang begitulah rasanya. Di semester empat ini mata kuliah Prose.I wajib diambil, dan sudah menjadi rahasia umum kalau dosen pengampunya terkenal “3k” alias kritis, killer, kejam ( hehe… peace Mam…). Pokoknya siap-siap saja lapangkan hati mendengar petuah sang dosen kalau sampai kita tidak bisa menjawab pertanyaan ( biasanya Bu dosen akan menanyai satu per satu).

Meski kami adalah mahasiswa sastra inggris yang notabene pecinta karya sastra, tapi ternyata untuk memahami makna yang terkandung dari sebuah short story, kami mesti jungkir balik dan memeras keringat dulu. Di awal-awal kuliah Prose.I lalu, saya begitu merasa kesulitan memahami bahasa yang aneh-aneh dan makna cerita yang tidak mudah ditebak. Ironisnya, semakin lama, semakin sering saya disuguhi cerpen-cerpen klasik itu, bukannya jadi terbiasa lantas mengerti, saya malah menjadi semakin tidak mengerti.

Mungkin sebenarnya cerpen-cerpen yang menjadi bahan diskusi mingguan itu bukanlah karya asing bagi pecinta sastra pada umumnya, namun bagi saya yang buta sastra klasik, cerpen-cerpen itu mampu membuat tidur saya tidak nyenyak tiap malam kamis. Awalnya, Bu dosen cukup baik hati memberikan cerpen-cerpen yang tergolong pendek dengan bahasa yang masih relatif bisa dipahami, seperti Gift of The Magi dan Can-Can. Tapi menginjak tengah semester dan hingga kini di ambang pintu uas, cerpen-cerpen itu makin lama benar-benar memeras-meras otak saya. Macam A Young Man Comes Home, The Stolen Party, The Model, The Necklace, The Button, dan Neighbour Rosicky yang panjangnya minta ampun.

Terakhir hari Kamis 4 Juni lalu, Bu dosen mengadakan kuis dengan bahan cerpen berjudul Hearts and Hand. Meski cerpen itu hanya terdiri dari dua halaman, namun sungguh mati, hingga lima kali baca pun saya masih belum paham… apa maksud dari cerita itu? Dan dari lima soal yang diberikan, semua saya jawab dengan tehnik pengawuran besar-besaran. Demi Tuhan, itulah satu-satunya ujian dimana saya tidak tahu jawaban dari semua soal. Dan dari pada kertas jawaban saya kosong, saya pun memutuskan untuk mengarang indah. Saya berkali-kali melirik teman sebelah saya, jawabannya lebih dari satu halaman. Sementara punya saya bahkan tidak sampai satu halaman. Saya baca berulang-ulang, tapi saya tetap stuck, tidak bisa berpikir lagi. Akhirnya saat Bu Dosen berkeliling mengambil lembar jawaban kami, dengan tangan dingin dan hati lelah saya serahkan jawaban saya.

Saya berharap Bu Dosen tidak akan membahas hasil ujian itu di pertemuan minggu depan. Karena saya tahu hasil ujian saya akan sama buruknya dengan nilai matematika SMA saya dulu. Tapi malangnya, ternyata Bu dosen sedang in the mood, jadi sore itu juga kelas kami langsung membedah cerpen tersebut, yang itu berarti akan ketahuan bagaimana hasil ujian kami.

Pertanyaan satu, dua, tiga, lewat. Absolutely wrong answers! Namun menginjak soal nomor empat, saya dapat surpraise! Kira-kira 20% dari jawaban no 4 dan 5 saya benar. Rasanya puasssss sekali, meski saya tahu nilai saya tetap tidak akan menjadi sempurna. Padahal kalau dipikir-pikir saya benar-benar ngawur menjawabnya. Tanpa teori dan asal tebak. Tapi kata Bu dosen, insting kita dalam menginterpretasi sebuah cerita sudah menunjukkan kemampuan kita dalam literature. Dan di tengah-tengah gerutuan dan muka-muka kusut plus kecewa teman-teman saya, diam-diam ada sebersit semangat muncul di hati saya . Semangat untuk mempercayai kemampuan saya sendiri di kelas Prose.I ini, dan semangat untuk terus berusaha agar saya benar-benar bisa mampu mengambil jurusan literature kelak.

Meski kelas Prose.I ini benar-benar membuat perut mulas, namun benar-benar mengajarkan saya satu hal, akan pentingnya mempercayai dan yakin dengan kemampuan kita sendiri. Satu hal sederhana yang masih sering sulit saya praktekkan.

kapitalisme dalam pesantren?

Kemarin pas saya lagi browsing cari data untuk tugas kuliah, tanpa sengaja menemukan artikel ini:

KAPITALIS PESANTREN

Anda Pengen Kaya…???
caranya gampang, sekarang bukanlah berdagang….tapi yang bisa ngumpulin orang banyak itulah yang akan kaya!!tinggal ongkang2 doang.

dirikanlah sekolah/universitas/yang lagi tren sekarang jadilah kyai…yang punya pesantren, cari sebanyak mungkin santri bagaimanapun kiatnya pokoknya cari…pasti deh kamu akan terkenal and kaya…

Sumbangan akan terus mengalir…dijamin!!!jangan takut g bisa makan deh…santri..santri kamu suruh aja nanam padi ato sebagainya, dan apa saja misalnya ketrampilan2 yang umum di dunia luar sono(menjait, komputer, koperasi, jualan/toko)

Sistemnya kurang lebih seperti ini:

· Para santri sediakan lahan/pekerjaan/ketrampilan yang menghasilkan barang jadi siap jual (semua peralatan dan pelatihan disediakan gratis dari pemerintah)

· Anda sebagai kyai/kepala pondok pesantren tinggal memanagement/cari pembeli pokoknya gimana caranya biar jadi duitlah (modal omong and do’a doang)/makelar berpeci lah….”duh…marah ya Om kyai”.

· Jangan lupa para santri di bimbing agama yang buanyak biar ngga demo ngga ngeyel ngga males and sungkan pada kita sebagai kyainya…”ini sudah pasti loh”

· Suka ato tidak sadar ato tidak jadi kyai adalah salah satu lahan basah dan licin selain pekerjaan jadi DPR/Jaksa sekalipun dan lebih halal lho…waktu mo lebaran kan dizakati…masuk Koran…masuk TV

inilah yang saya tangkap dari fenomena akhir zaman kali ini, betul ato salah andalah penentu jalur cerita akhir zaman, tanyalah mata dan hatinurani anda apa saja yang anda lihat disekeliling anda…semoga kita saling memaafkan!!

Terus terang hati saya miris sekali membaca tulisan di atas. Entah ini tulisan siapa, tapi yang jelas saya yakin si penulis bukanlah orang yang mengerti dunia pesantren dengan baik. Saya ( bukannya sombong ) yang sejak kecil hidup dekat dengan keseharian santri dan boleh dibilang akrab dengan dunia pesantren benar-benar kecewa ada orang yang dengan blak-blakan menulis seperti itu. Dunia pesantren yang selama ini saya kenal sama sekali tidak seperti yang penulis itu tuturkan. Sejak kelas satu SMP saya sekolah sambil nyantri di PP. Al-Asy’ariyah Wonosobo, lalu saat masuk bangku aliyah dilanjutkan di PP. Wahid Hasyim Yogyakarta. Dari kedua pesantren yang saya keruk ilmunya itu, saya sama sekali tidak menemukan praktek-praktek kapitalis. Yang ada justru pesantren berperan sebagai jembatan dan lahan masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri dan perekonomian. Saat di PP. Al-Asy’ariyah, saya melihat hampir 90% penduduk desa sekitar pesantren mata pencahariannya bergantung pada keberadaan pesantren. Pra penduduk banyak yang membuka warung makan, jasa laundry, jasa komunikasi, dsb yang semua konsumennya berasan dari penghuni pesantren. Di pesantren tersebut juga terdapat koperasi simpan pinjam, tapi semua itu bukannya dijadikan ajang untuk mencari keuntungan materi pihak pengelola pesantren.Melainkan untuk kesejahteraan bersama. Pengasuh ponpes, santri, dan penduduk sekitar.

Saat di Wahid Hasyim pun saya melihat kebersamaan dalam dunia pesantren. Para santri memang dianjurkan untuk berpartisipasi dalam tiap pembangunan ponpes, tapi itu bukan demi keuntungan kyai, melainkan kepentingan bersama. Disana bahkan juga terdapat lembaga santunan anak yatim yang dananya dihimpun dari para santri dan donatur, yang nantinya digunakan untuk biaya sekolah santri-santri yang kurang mampu. Sama sekali bukan untuk kepentingan pribadi pengasuh ponpes ( kyai). Bahkan kalo boleh jujur, kyai saya yang memang sekaligus bekerja pada instansi pemerintah rela menggunakan sebagian besar dana pribadinya untuk pembangunan dan operasional pesantren.

Lucu rasanya bila sistem yang ada di pesantren disebut kapitalis. Mungkin orang yang belum pernah nyantri tidak bisa merasakan bagaimana indahnya mengabdi pada kyai. Bagi para santri seperti kami, tujuan kami nyantri adalah untuk mencari ilmu serta ridhlo Kyai. Apapun rela kami lakukan ( tentu selama masih dalam jalur kebenaran). Dan hal yang lebih penting untuk diingat adalah: Pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia. SD, SMP, SMA, atau Universitas hanyalah adaptasi dari sistem pendidikan barat. Jadi bagaimana bisa kita justru mengkabing hitamkan budaya kita sendiri? Pesantren kita sendiri? Sekolah kita sendiri?

Perlu digaris bawahi, bahwa jika akhir-akhir ini muncul fenomena kyai masuk tv, itu persoalan yang sama sekali berbeda. Kyai yang punya jadwal show di tv tentu berbeda dengan kyai yang benar-benar mengabdikn ilmu dan hidupnya untuk pesantren. Lagi pula, meski dai-dai keren yang hobi nampang di tv itu terkesan hanya cari popularitas, tapi kita toh tidak berhak menghakimi. Siapa yang tahu niat hati mereka? Dan siapa tahu karena ceramah2 mereka yang gaul. Banyak orang jadi insyaf dan kembali ke jalan yang lurus. Kalau pun ada orang ngaku2 kyai biar terkenal dan kaya, itu adalah urusan orang itu sendiri. Kita kan cukup cerdas untuk menyikapinya. Dan yang tak kalah penting adalah, sama sekali tidak benar menuding dunia pesantren dan profesi kyai dengan tuduhan2 yang tidak masuk akal itu. Yang salah itu oknumnya, yaitu orang2 yang menggunakan nama pesantren dan kyai untuk mengeruk keuntungan. Bukan pesantren dan Kyai-nya.

Jika saat ini dunia pesantren makin subur, kita seharusnya bangga. Sistem pendidikan lokal asli warisan leluhur kita masih bertahan hingga kini. Munculnya lembaga-lembaga mirip pesantren yang sangat kapitalis jangan lantas membuat kita paranoid dan bersempit pandang. Justru tugas kita lah mewujudkan sistem pendidikan yang arif dan menyejahterakan umat. Pesantren merupakan budaya yang harus kita jaga kelestariannya. Bukannya saya menutup mata dari kenyataan bahwa kapitalis semakin merajalela merambah hingga ke dunia pesantren, tapi sekali lagi jangan menuding pesantren atau Kyai sebagai oknum kapitalis. Karena pesantren sungguh sebuah dunia yang indah yang mengajarkan saya tentang kebersamaan, kerja keras, dan pengabdian.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!